Farid


 Desy




 Akad

Profil Mempelai Pria Farid KHoirul Huda
elfariedi.blogspot.com
Profil Mempelai Wanita Desy Putri Purnamasari
cahaya05.wordpress.com
Ta'aruf
Cerita pertemuan ini bisa berlanjut dalam jenjang pernikahan

Akad dan Resepsi
Info Lokasi Akad dan Resepsi Pernikahan

Info Denah Lokasi
Versi | Farid

10 November 2009,
”Alhamdulillah, akhwatnya bersedia diproses lebih lanjut, apa ant bersedia ta’aruf?” Dari sebuah sms ustadzku itulah sepenggal cerita proses ta’aruf ini kumulai. Setelah membaca sms itu, aku terdiam, kesyukuran dan keraguan membuncah memenuhi perasaanku, dan dengan Bismillah, kubalas sms beliau bahwasanya akupun bersedia untuk ta’aruf.

Memang, sekitar 2 bulan yang lalu, 1 pekan sebelum ramadhan 1430, berbekal “tekad yang kuat” kuberanikan diri untuk menyerahkan biodataku kepada guru ngajiku, di sela-sela persiapan beliau untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

17 November 2009,
Akhirnya malam yang dinantipun tiba. Setelah sholat isya’, akupun bersiap berangkat. Kusempatkan mampir ke apotek dulu, beli obat, karena perut tiba-tiba mules, efek keenakan makan sambel ba’da maghrib tadi. Dan ternyata benar, akhwatnya sudah nungguin disana, aku datang agak telat, susah bener nyembuhin penyakit ini.

Majelis ta’aruf malam itupun dibuka, lalu aku diminta ustadz untuk tilawah. Kemudian diskusi dimulai untuk saling menanyakan apa saja yang kurang jelas terkait biodata. Dalam kesempatan itu, Ia ingin memberikan informasi terkait kondisinya, dengan diawali sebuah pernyataan ”semoga berita ini tidak menghambat proses kita”. Ya, itu ternyata karena si akhwat dalam beberapa hari lagi dituntut segera membuat keputusan untuk taken kerja ato tidak, dengan penempatan kerja di luar kota, tidak cukup hanya disitu, berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya bahwa biasanya training awal akan dilakukan di luar negri..!!!.Fwuuihhh...

Diskusipun berlanjut dengan saling mengutarakan ”rencana” masing-masing dari kita kedepan. Waktu semakin malam, kulihat jam di ruang tamu, sudah berlalu beberapa jam sejak kuinjakkan kaki di ruang ini sejak ba’da isya tadi. Setelah dirasa cukup, sebuah pertanyaan berat diluncurkan, ”Kalo ant memang benar-benar serius, saya harap dalam pekan ini ant dan keluarga silaturrahim ke rumah, Berharap bulan depan (desember) sudah nikah karena saya berazzam tidak ingin berlama-lama dalam proses ini, dan alhamdulillah dari keluarga saya sudah sangat welcome dengan antum” Serrr.....lagi-lagi semakin kencang pula laju denyut jantungku...

Sebelum masjlis diakhiri, ustadz memberiku kesempatan untuk melihat si calon (nadhar). ”gimana caranya ustad?” tanyaku,
”ya langsung saja dilihat” jawab beliau,
”gimana cara melihatnya?” tanyaku kembali,
”ant berdiri, terus hadap ke arah akhwatnya” dengan nada datar beliau jawab
”oo... gitu..” jawabku  
Butuh sepersekian menit untuk bangkit beranjak dari tempat dudukku, deg..deg..deg... bismillahirrahmannirrahiim,
Akupun beranjak berdiri, dan melihatnya,
.....................................................................
Kulihat sepintas, seorang akhwat sedang duduk tersipu di depanku,..

Tidak lama kemudian, proses ta’aruf dicukupkan. Dengan digelayuti debaran rasa yang masih ga karuan, akupun pamit untuk pulang.

Malam itu, sesampainya di kontrakan, seolah pikiranku terbang tinggi melayang jauh mengangkasa. Butuh 4 jam lebih untuk kembali menata hati, bahkan baru jam 2 malem mata ini baru bisa merem.

27 Nopember 2009,
Embun pagi ini begitu segar, mentaripun bersinar cerah, diiringi gema takbir membahana mengangungkan kebesaranNya, membuktikan sebuah harmoni kuasa Ilahi di hari Idul Adha ini. Di hari inipun, aku telah berjanji bahwa akan datang silaturrahim ke keluarga akhwat tersebut. Dengan ditemani sepeda kesayangan, yang telah setia menemaniku sejak 8 tahun lalu, sejak di bangku SMP, SMA bahkan kuliah. Yang seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kepingan perjalananku, dan bahkan kujadikan jaminan buat pengajuan pembiayaan usaha di Koperasi Syariah beberapa waktu lalu. Karena  ustadz tidak memungkinkan untuk mendampingi, maka aku mengajak seorang teman. Kami berangkat ketika jam menunjukkan 09.30 waktu Surabaya.

Bismillah...
Pelan namun pasti, sepeda berjalan meninggalkan kota perjuangan ini. Ya, kota perjuangan, bagaimana tidak? Karena tiba-tiba hujan sangat deras mengguyur, membanjiri bumi Surabaya. Namun hal itu tidak melunturkan bara semangatku untuk menunaikan janjiku. Karena memang kondisi yang benar-benar tidak bersahabat, kamipun memutuskan berteduh dulu meski akhirnya kami nekat melanjutkan perjalanan karena waktu yang sudah semakin siang.

Alhamdulillah, dengan selamat kumasuki rumah asri yang sudah sering kutinggalkan sejak SMA. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ibuku, ayahku, adik dan masku. Setelah bersih diri dan mohon restu ayah-ibu, Bismillah... aku berangkat, mendatangi rumahnya, untuk menunjukkan bukti kesungguhan niatku.

Kuparkir sepedaku di halaman rumahnya yang luas, setapak demi setapak kulangkahkan kakiku memasuki rumahnya. Kukepalkan tangan dan kupekikkan takbir sebelum masuk ruang tamunya, setidaknya dapat meneguhkan persendianku yang sedari tadi bergetar ga karuan.
Assalamu’alaikum.....

12 Desember 2009,
Adzan isya sudah beberapa menit berkumandang, beberapa keluarga besarku sudah bersiap-pula untuk berangkat. Ya, malam ini kami akan berangkat untuk mengkhitbah (melamar) akhwat tersebut. Meskipun akhwat tersebut berhalangan hadir, dan alhamdulillah itu tak menjadi halangan, sehingga acara malam itupun berjalan lancar.

16 Desember 2009,
Orang jawa bilang ”ater-ater semut”, selang 4 hari kemudian keluarga akhwat tersebut memutuskan untuk kunjungan balik ke rumahku. Meski kondisi ibuk yang kurang baik, ada sedikit masalah karena pergeseran pada tulang pinggul beliau,  tapi alhamdulillah pada malam itu kedua keluarga kami sudah bersepakat terkait penentuan hari dan tanggal pernikahan kami. 

Subhanallah, sungguh indah skenario Allah. Begitu banyak kemudahan yang telah DIA berikan, meyakinkan ayah ibu dalam 1,5 bulan dan belum lagi kondisi mas yang belum berkeluarga (matur nuwun mas, atas pengertian  dan keikhlasan sampeyan). Dan akhirnya syukurku yang tak terhingga atas semua anugrah terindah yang telah Allah karuniakan padaku.

Yaa Rabb, ampuni kami jika ada noda yang mengotori niat kami,
Dan jadikan semua proses yang telah dan akan kami lalui ini barakah,.. Aamiin.


 Farid


 Desy




 Akad

Profil Mempelai Pria Farid KHoirul Huda
elfariedi.blogspot.com
Profil Mempelai Wanita Desy Putri Purnamasari
cahaya05.wordpress.com
Ta'aruf
Cerita pertemuan ini bisa berlanjut dalam jenjang pernikahan

Akad dan Resepsi
Info Lokasi Akad dan Resepsi Pernikahan

Info Denah Lokasi
Versi | Desy

Mei 2008,
Untuk kali pertama aku mengenalnya dalam sebuah kepanitian, itupun kami ditempatkan di divisi yang berbeda. Saat itu, sekedar kutau nama dan suaranya. Karena selalu ada hijab yang menutup rapat syuro-syuro kami.

Masa berganti dan waktupun berlalu, tak pernah lagi aku berpartner dengannya, hanya sesekali mendengar namanya disebut-sebut sebagai panitia ini dan itu. Meskipun kami beramanah di satu lembaga yang sama (JMMI), namun departemen kami memiliki arah gerak yang berbeda. Beliau yang lebih berkecimpung di da’wah internal kampus, sementara saya yang lebih sering besinggungan dengan LDK Luar (FSLDK), hal tersebut tentu saja menjadikan kami tak sering berinteraksi.

Hingga akhirnya, dengan izin Allah pula, pertengahan November 2009, kami dipertemukan kembali dalam suatu majlis yang lumayan membuat jantungku berdetak lebih kencang, sebuah majlis yang menjadi awal dari sebuah niatan suci.

Lembaran-lembaran kisah Sebelumnya,..
Bertepatan dengan Majlis Akbar JMMI XIX, tiba-tiba aku mendapat sms dari ustadzahku untuk segera mendatangi rumah beliau. “Ada apa ya kira-kira?”, batinku bertanya, “sepertinya penting”. Tak punya firasat apa-apa saat itu.

Setelah mohon ijin dari forum, ku datangi rumah asri itu. Serasa belum percaya dengan kabar yang disampaikan oleh ustadzah.
“Alhamdulillah, ada seorang ikhwan yang berniat ta’aruf dengan anti, dek”.
Kalimat tasbih, tahmid, dan takbir langsung mengalir dari lisanku. Ya Allah, Engkau memang Maha Segala…

“Ikhwan yang insyaAllah shalih, muharrik da’wah, FTI, anak kediri juga, owner dari beberapa usaha.”Hanya itu informasi yang aku peroleh dari ustadzah. Setelah diberi tau kapan dan dimana aku bisa mengambil biodatanya, aku mohon undur diri.

Sepulang dari rumah ustadzah, satu pertanyaan menggelitik di benakku. “Siapa ya?” Ah, tapi pertanyaan itu mengalahkan rasa syukurku, bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan untukku. Cepat, begitu cepat Allah bergerak dengan Kuasa-NYA. Akhir-akhir itu aku memang berazzam untuk segera menikah. Hampir tiap malam air mataku tumpah, memohon dengan segala kerendahan hati pada Dzat yang mengatur segala urusan hamba-hambaNYa, tak terkecuali diriku. Satu do’a yang dengan sungguh-sungguh aku pinta saat itu:
Ya Rabbiy, mohon izinkanlah aku untuk segera menggenapkan separuh dien-ku agar Engkau memperbaiki akhlakku, sebagaimana yang telah dijanjikan Rasul-MU pada kami, ummatnya
Tak ingin berlama-lama aku dalam kubangan fitnah. Aku ingin menjaga kehormatanku, tekadku dalam hati.

5 November, 2009
Tak terhitung sudah berapa kali aku membaca biodata yang baru aku terima beberapa hari yang lalu. Membolak-baliknya dalam berbagai kesempatan, setelah sholat malam, sesudah sholat dhuha, sehabis baca Qur’an, untuk mencari-cari satu kata, “keyakinan”. Empunya bernama Farid Koirul Huda – sebuah nama yang memiliki arti luar biasa -. Nama yang sangat tidak asing bagiku, ingatanku langsung menjelajahi kenangan pertama kali aku mengenalnya 1 tahun yang lalu. Kubaca tiap kata dari biodata itu dengan seteliti mungkin, data dirinya, kondisi keluarganya, karakter dirinya, dan planning kedepannya. Biodata yang minimalis, itu kesan pertamaku saat menerimanya. Tapi ku tau kemudian, ternyata tidak seminimalis niatnya.

Selasa, 10 November, 2009
Hari pahlawan di kampus Perjuangan. Hari dimana Allah menurunkan lagi rizqi-Nya yang lain. Sebuah rizqi yang sama sekali tidak aku sangka. Aku diterima bekerja di salah satu vendor perusahaan Telco di Jakarta. Semuanya berjalan begitu cepat dan lagi-lagi tidak aku duga sebelumnya. Aku tak pernah apply perusahaan itu, tahu iklannya saja tidak. Tapi tiba-tiba mendapat panggilan dari SAC ITS untuk mengikuti tes. Singkat cerita, Biidznillah, atas izin Allah jua, aku lolos dari serangkaian tes dan dinyatakan diterima pada hari itu juga. Dan akan ada penandatanganan kontrak di kemudian hari.

Beberapa hari setelah itu, aku sengaja menghabiskan waktu di rumah, Kediri. Berniat membawa satu nama yang akan aku perkenalkan pada keluargaku. Antara perasaan ragu dan khawatir menjadi satu. Ragu dan khawatir apakah keluargaku akan bisa menerimanya, ataukah akan menolaknya. Argh…hatiku cemas! Bingung harus mulai berbicara dengan orang tua seperti apa. Aku tak ingin mengecewakan mereka lagi. Namun, lagi-lagi Allah memberiku kemudahan. Orang tuaku yang saat itu (ternyata) akan menjodohkanku dengan orang lain, akhirnya membatalkan niat. Dan syukur tak terkira, mereka bisa menerima sebuah nama yang saya ajukan. Apalagi bapak yang biasanya bersikap antipati, subhanallah, (sangat) bisa menerima akh Farid.
“Maka nikmat Tuhan-MU yang manakah yang kamu dustakan?”, tangis bahagiaku atas semua kemudahan-kemudahan yang seolah dihamparkan Allah untukku, untuk kami.

Selasa, 17 Nopember 2009
Pertemuan yang mendebarkan. Majlis dimana kami akan dipertemukan kembali. Dugaanku benar, ikhwannya datang telat, satu sifat buruknya dari biodata itu terbukti (tunggu iqob dari saya J ). Di temani ustadznya dan ustadzahku dan bertempat di sebuah ruangan dimana beliau duduk membelakangiku, kami berusaha untuk mengenal lebih dekat, saling menyampaikan visi hidup, rencana, dan cita-cita kami masing-masing.

Sebuah dilema muncul di awal majlis. Setelah aku menjelaskan kondisiku yang sudah diterima bekerja. Kusampaikan informasi yang telah aku kumpulkan dari pengalaman orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan itu, dimana pada masa awal ada program training beberapa bulan di Luar Negeri. Ada nada keberatan tersirat dari tanggapannya saat itu. Di sisi lain, keluargaku sangat mendukungku untuk bekerja di perusaan tersebut.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan…??? Mengutamakan menikah ataukah bekerja?? Kebingunganku membuncah…

Aku meminta beberapa waktu untuk berfikir dan menimbang. Dan akhirnya dengan tegas aku katakan, “Bismillah, insyaAllah saya lebih memprioritaskan untuk menikah, toh masih banyak perusahaan lain yang membuka lowongan. Dan isi kontraknya pun juga belum jelas, jika memang isi kontraknya nanti benar-benar ada program training di luar negeri, saya sama sekali tidak keberatan untuk melepaskan kesempatan bekerja di perusahaan itu”. Kembali ke tujuan awal, kubulatkan lagi tekadku.

Sebelum diakhiri, ada proses nadhar, dimana seorang ikhwan dipersilakan melihat si calon. Jujur, mending aku disuruh jadi orator di Grahadi daripada berada dalam kondisi saat itu J. Tapi, bagaimanapun juga aku harus menunaikan haknya. Akhirnya beliau hanya memandangku sekilas. Fiuh, rasane gak karuan, amat sangat malu sekali. Butuh waktu dua hari untuk benar-benar menghilangkan rona merah di pipiku.

Jumat, 27 November 2009
“Jika ikhwannya berniat melanjutkan, saya minta beliaunya silaturrahim ke rumah sebagai bentuk kesungguhannya”, itulah sms yang aku kirimkan ke ustadzahku agar disampaikan padanya. Tepat hari raya Idul Adha, beliau datang menunaikan janjinya sekaligus permintaanku.

“Jika nak Farid ingin menjadi orang yang sukses dan mulia, mendekatlah kepada Allah sedekat-dekatnya. “Dengan cara apa?”, Tanya bapak yang kemudian dijawabnya sendiri, “Rajin-rajinlah sholat malam, sholat dhuha, dan puasa”, nasihat bapakku padanya. Dari balik pintu, sayup kudengar suara bapakku berbicara dengan lelaki yang dengan beraninya mendatangi rumahku.

Rabu, 2 Desember 2009
Allahu Akbar! Pekikku dalam hati di sebuah ruang meeting di salah satu perusahaan di Jakarta. Program training yang tahun-tahun sebelumnya dilakukan di luar negeri, untuk tahun ini hanya dilakukan di Jakarta. Rasa syukurku terucap lagi. Di saat Allah mendatangkan dua rizki itu bersamaan. Rizqi jodoh dan rizqi pekerjaan. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah memberi lebih dari yang kupinta..

Sabtu, 12 Desember 2009
Semoga segalanya berjalan lancar
Untukku, untuknya, dan untuk mereka
harapku pada Sang Maha Segala
-lirih do’aku di kejauhan-

Hari ini adalah hari dimana ia datang bersama keluarganya untuk melamarku. Dan saat itu aku berada di Jakarta, tidak mungkin pulang, hiks. Kuhubungi nomer hpnya untuk memohon maaf dengan orang tuanya, sembari menanyakan keadaan ibuknya yang kabarnya sedang sakit. Alhamdulillah dari keluarganya tidak mempermasalah hal itu. Empat hari kemudian, gantian keluargaku yang silaturrahim ke rumahnya.

Kamis, 17 Desember 2009
Alhamdulillah aku berkesempatan pulang kampung. Berniat menjenguk ibuknya yang sedang sakit dan mengurus segala sesuatu menjelang hari-H yang hanya kurang 1,5 bulan. Ya Allah, mudahkan segala urusan kami, rintih do’aku di setiap kesempatan.

Waktu 3 hari di rumah benar-benar aku manfaatkan untuk menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari memohon doa restu sanak saudara, menyiapkan segala keperluan akad dan walimah, menyiapkan syarat2 KUA (surat keterangan RT, KK, akte lahir, foto, ijazah), hingga suntik TT (Tetanus dan Toksoid) yang hampir membuatku drop beberapa saat.

Hari sabtu, dengan diantar bapak dan adek-adekku, aku silaturrahim ke rumahnya sekaligus menjenguk calon ibuk mertuaku yang sedang sakit. Satu kesan yang sangat aku rasakan saat itu, keluarganya begitu hangat dan sangat menghargai satu sama lain -home sweet home-. Rasa canggungku hilang seketika, karena sikap mereka menjadikanku merasa sudah menjadi bagian dari keluarga itu. Dari ibuknya aku memperoleh banyak bocoran tentang seseorang yang sebentar lagi insyaAllah akan menjadi suamiku, mulai dari jiwa kemandiriannya, bagaimana akhlaqnya ketika di rumah, makanan kesukaannya, hingga kebiasaan bersin2nya tiap pagi.. J. I just found a wonderful family, besides of mine.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Segala puja dan puji hanya patut bermuara pada Allah, Sang Pangatur, Sang Penentu, dan Sang Penguasa hamba-hamba-NYA. Merasa sekali Allah sangat dekat, lebih dekat dari urat leherku. Dengan Kuasa-NYa, Allah telah memberikan kemudahan demi kemudahan. Menyelamatkanku dari jalan yang tidak seharusnya dan mengantarkan pada jalan yang dikehendaki-NYA. Rasanya ratusan hamdalahku tak kan mampu mewakili rasa syukurku…

Two worlds today have now become one
the road ahead is as bright as the sun
O Allah, keep this marriage so strong
in Your hands does their future belong..
(Zain Bikha, Nikahun Mubarokun).





-= Kedua Mempelai =-
Farid KHoirul Huda (Farid) & Desy Putri Purnamasari (Desy)